Minggu, 21 Desember 2008

PEMBEBASAN DALAM KITAB ESTER (KESIMPULAN)

Dalam Perjanjian Lama, pembebasan pada satu pihak berarti pembebasan dari kuasa yang menjauhkan manusia dari pengabdian dan pemujaan kepada pencipta-Nya; di pihak lain, adalah kebahagiaan positif dari kehidupan. Kemudian pembebasan juga dapat berarti, persekutuan dengan Allah dalam perjanjian-Nya, di tempat di mana Ia berkenan menyatakan diri dan memberi berkat. Dalam pengertian ini, pembebasan berarti memiliki dua dimensi. Hal yang berkaitan dengan aspek rohani dan jasmani. Keduanya memang tidak dapat dipisahkan, karena merupakan aspek yang saling terkait satu dengan yang lainnya.
Berkaitan dengan pembahasan dengan judul “Pembebasan dalam Kitab Ester: Suatu Refleksi terhadap Reaktualisasi Spiritual dalam Mengalami Karya Allah (Studi Eksegesis-Teologis Kitab Ester),” penulis dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut: Pembebasan dalam konteks Ester adalah bebas dalam pengertian terlepas dari pemusnahan. Sedangkan secara teologis pembebasan ini adalah wujud pemeliharaan Allah terhadap umat-Nya, yang secara sosial tertindas oleh karena tetap memilih tinggal di negeri penjajah. Allah memberikan perintah kepada umat-Nya untuk kembali ke tanah perjanjian, tetapi sebagian mereka memilih untuk tetap tinggal. Ketidaktaatan terhadap hukum Allah membawa mereka pada penghukuman.
Hadirnya Haman sebagai keturunan Agag, adalah alat untuk rencana-Nya. Dengan demikian, tuntutan pembebasan adalah kenyataan wajar umat akibat penderitaan. Hal ini merupakan afirmasi pengetahuan akan Allah, dan menguatkan iman umat sehingga orang kafir melihat kebesaran Allah Israel. Maka dengan hal ini, Yahweh tetap menjadi pusat pengharapan dalam segala sesuatu bagi umat yang percaya kepada-Nya. Semua ini terjadi bahkan mereka mengalami karya Allah (pembebasan) karena reaktualisasi spiritual (memulihkan kembali nilai-nilai spiritual di masyarakat ”puasa”) yang umat lakukan.

JADIKAN PERJALANAN HIDUP ANDA BERSEJARAH

Anda mempunyai kesempatan dua puluh empat jam untuk menjalankan kehidupan sehari seperti belum pernah Anda jalankan-sama sekali unik dan terpisah dan berbeda dari hari-hari lain. Dipenuhi dengan potensi dan kemungkinan, Allah memberi keduapuluh empat jam itu kepada Anda untuk menginvestasikan kesempatan kekal berharga seribu tahun. Joni Earickson Tada

Menjalani kehidupan terbaik adalah impian setiap orang. Namun kelihatannya, sebagian besar manusia senang membiarkan hidupnya mengalir begitu saja. Hanya sedikit yang berani memutuskan apa yang akan terjadi di dalam kehidupan mereka. Kalaupun membuat keputusan itu pun karena adanya desakan-desakan orang-orang sekitar, dan bukan akibat kesadaran diri menanggapi seriusnya masa depan. Apalagi, jika perjalanan hidup dipenuhi pengalaman pahit, kesukaran, kegagalan bahkan kelamnya kabut harapan sehingga semuanya membuat tertutup pintu masa depan. Membuat seseorang diselimuti tebalnya keraguan dengan melepaskan diri mengharapkan alternatif. Hal-hal penting dengan segera menjadi pudar, tergantikan dengan kepuasan akibat pemenuhan terhadap standar-standar tertentu.

Menikmati Perjalanan Anda
Pemandangan lama terhadap hidup yang digerakkan ketakutan menjadi penuntun kuat dan pemandangan tersulit untuk dihilangkan. Banyak orang berusaha bertahan hidup tetapi membiarkan diri larut dalam bayang-bayang kekelaman yang mengarah pada kefasikan. Tegasnya, tidak menikmati perjalanan hidup yang sesungguhnya. Tahu Sorga tetapi tidak menikmati perjalanan ke Sorga.
Dewasa ini, berapa banyak anak-anak Tuhan, pemimpin organisasi Kristen, keluarga Kristen bahkan hamba-hamba Tuhan yang melayani umat sedang melangkah menuju perhentian mematikan akibat terpusingkan masalah hidup serta kebosanan internal yang berlangsung tanpa henti. Sehingga harapan untuk menatap masa depan yang menjanjikan dan berkekuatan menjadi tidak digubris.
Hal ini tentu mengisahkan kisah sedih dengan berbagai pertanyaan serta kecaman yang ditimbulkan akibat pergulatan kisah yang semakin meningkat menjadi tak terbendung lagi. Mengapa gereja menjadi lesu? Orang Percaya menjadi tidak antusias? Keluarga menjadi tidak bahagia dan harapan menjadi mati? Mati mata pencaharianku, mati masa depanku!

Terganggu dalam Perjalanan
Ketakutan mereka dinilai sebagai kewajaran karena umum dilakukan sebagian manusia. Kualitas terbaik dari hidup yang dijalani tidak tertampil dengan baik, terkalahkan besarnya keraguan hidup. Sehingga keengganan terlihat lebih tebal dibanding keseriusan dalam berkarya. Ketidakaktifan menonjol dibanding kemauan kuat menghasilkan manfaat bagi sesama.
Parahnya lagi, mereka membiarkan diri tercebur dalam keruhnya kubangan masalah sehingga berakhir tanpa jalan keluar, memilih menjalani kehidupan dengan keputusasaan berkepanjangan sehingga tidak bereaksi terhadap gejolak himpitan hidup, tidak menuntut terbaik dari kesempatan, digirangkan hanya dengan pencapaian rata-rata dari kemampuan mereka yang sebenarnya tidak biasa - semuanya itu menggantikan ketertarikan untuk mencapai lebih dengan kesungguhan yang tidak biasa. Sehingga pembeda sesungguhnya dari hidup menjadi tidak nampak dan berhenti menarik perhatian sekitar.
Sebagai umat Allah, kerinduan hati-Nya adalah menjadikan kita pembeda yang siap tampil bermanfaat, menjadi berkat dan menguntungkan bagi sesama. Lewat apa yang ada - terlebih hidup yang dijalani dengan baik-kita memaknainya dengan tidak melewatkan setiap kesempatan baik dan berharga yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Karena setiap pribadi dipanggil untuk menjadi berguna dengan bermanfat bagi sesama. Mampu menghadirkan perubahan nyata pada kelambanan dari kecintaan terhadap hidup.
Sekarang, tiba saatnya melakukan sesuatu dengan hidup Anda. Termasuk masalah yang datang dalam kehidupan Anda. Daripada hanya membiarkannya dengan bekas-bekas yang ada di dalamnya, Anda dapat mengubah masalah itu menjadi peninggalan bersejarah bagi sesama. Dengan demikian Anda dapat memastikan menikmati perjalanan hidup Anda. Dan, sambil memastikan perjalanan Anda sedang tidak terganggu.

”DIKALA PENGETAHUAN MEMBATASI KASIH”

Kita sering diperhadapkan pada sebuah pilihan dan tidak jarang pilihan itu membutuhkan pemikiran serius. Antara menolong ataukah terdiam melihat kebutuhan sesama karena kita pun sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan. Apabila menolong harapan dan rencana untuk pribadi, keluarga dan orang lain bisa gagal tetapi kalau tidak berbagi hati tidak sejahtera karena menolong adalah panggilan mulia? Manakah yang harus menjadi prioritas kita?
Pengalaman itu terjadi sekitar tahun 2007 lalu saat saya ke Jogya untuk Wisuda program Sarjana. Ada seorang teman yang datang dan kalau bisa mau pinjam uang untuk wisuda. Dan saat itu memang saya ada uang tetapi untuk persiapan bayar tiket pesawat terbang Jogya-Timika. Dan, pengetahuan yang melibatkan analitis kritis pun bergejolak antara menolong karena orang lain butuh dan mengabaikan rencana pribadi (belum tahu pastinya kapan uang dikembalikan) atau tidak menolong orang lain sehingga rencana dan kebutuhannya terabaikan?
Namun, selang beberapa saat setelah berfikir saya memutuskan untuk meminjamkan uang yang harus saya pakai untuk bayar tiket dan menunggu hingga uang itu dikembalikan. Hari berlalu dan minggu pun berganti uang yang dipinjam belum juga kembali. Apa yang harus kulakukan?
Adakalanya pengetahuan terbaik kita muncul dan menjadi benteng perlindungan paling aman bagi kita. Proses berfikir mendahului dalam segala sesuatu terlebih pengambilan keputusan. Manusia dalam keberadaannya, paling bisa menerima orang lain apabila orang itu menyenangkan. Menolong orang lain jika memberikan harapan, menjanjikan sesuatu - paling tidak menguntungkan bagi yang ditolong.
Orang lain dihargai karena pencapaian apa yang dibuat bermanfaat bagi orang lain. Dan, terlalu sering ini menjadi pengejaran berarti bagi kebanyakan orang. Segala sesuatu baik pekerjaan maupun pelayanan penuh pengabdian didasarkan pada motivasi tidak tulus-ingin dihargai sesama. Hingga akhirnya, tidak jarang pengabdian berubah menjadi petaka dalam hati yang sulit terobati karena terpendam.
Masalah yang ada hendaknya membuat kita berbagi kehidupan bagi sesama. Jangan membatasi diri karena hanya ”ada masalah” menutup hati untuk mengasihi.
Jangan sampai panggilan kita untuk mengasihi sesama terhilang karena penguatan terhadap masalah pribadi. Tidak mau berbagi karena merasa tidak ada yang dibagi. Jangan batasi kasih Anda!

DAN, TUHANPUN TIDAK SALAH MENGHITUNG

Ketika membaca sejarah kehidupan orang-orang besar, saya menemukan bahwa peperangan pertama yang mereka menangkan adalah perang terhadap diri mereka sendiri... bagi semua orang-orang besar itu, disiplin diri merupakan hal yang pertama. Harry S. Truman

Disiplin diri merupakan pemisah diri yang sesungguhnya. Di dalamnya, manusia berusaha berpasrah diri kepada Pencipta dengan ketundukan untuk menjalani kehendak-Nya. Lebih mengedepankan kemauan Tuhan dari pada kenyamanan pribadi yang biasa, tanpa bisa terganti oleh apapun. Namun, dengan disiplin diri, berarti yang biasa tidak terganti, menjadi terganti bahkan terubahkan – karena pengejarannya adalah ”pembentukan menjadi.”
Ayub adalah pribadi yang menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya. Ketika ujian iman datang - keluarga, harta kekayaan menjadi taruhan, Ayub terbukti menang dalam kesemuanya. Ketidaktahuan Iblis terhadap integritas Ayub terbukti, dan Allah Sang Mahatahu membuktikan kepada Ayub bahwa Iblis tidak memiliki pengertian terdalam dan jauh seperti diri-Nya. Apa yang Allah lihat dari Ayub tentang karakter dan kesalehannya adalah kebenaran tetapi bagi Iblis yang tidak mahatahu jelas ia membutuhkan bukti atas apa yang Allah nyatakan tenatang Ayub.
Dari kisah Ayub yang adalah seorang yang takut Tuhan dan hidup berdisiplin namun mengalami masa-masa sulit dan hal itu banyak menjadi kebingungan bagi banyak orang, sesungguhnya kita diperhadapkan pada kenyataan bahwa takut Tuhan tidak pernah menyusahkan. Diakhir kisah Ayub, Allah memberkati Ayub dengan berlipat ganda berkat. Allah tidak pernah salah menghitung apa yang terbaik untuk dibagikan bagi anak-anak-Nya. Kalaupun harus dilipatgandakan berarti Allah percaya Ayub berhak menerimanya.
Maka dari itu, belajarlah menjadi pribadi yang pantas untuk diberi berlipatganda oleh Tuhan. Pantas diberikan tanggung jawab untuk menghadirkan perubahan. PANTAS DIPERCAYAKAN DOMBA-DOMBA-NYA KARENA ANDA PUN MEMPERPANTAS DIRI DALAM MELAYANI DOMBA-DOMBANYA. Dalam hal ini, diperlukan kesetiaan teruji untuk menghadapi masalah. Masalah datang Alahlah jalan keluar. Ia tepat menghitung kekuatan dan kelemahan kita. Dan berkat apa yang pantas diberikan untuk kita saat masalah datang.


PERJALANAN YANG MENYENANGKAN
Perjalanan hidup memang tidak selalu indah. Terkadang kesukaran, kegagalan, kepahitan, kehancuran, kehilangan bahkan kematian datang tak terduga, melepaskan semua harapan atas apa yang direncanakan. Akibatnya, kekecewaan terhadap hidup serta penyempitan makna bahwa sesungguhnya hidup adalah sebuah ”proses” menjadi tidak menarik, omong kosong bahkan mati.
Parahnya lagi, jika hal ini berdampak pada penilaian serta pemahaman bahwa Sang Pemberi hidup juga tidak jauh berbeda dengan apa yang sedang dialami. Ia ada (teisme) sebagai Pencipta segala-galanya, tetapi kehadiran-Nya jauh meninggalkan ciptaan-Nya (deisme). Bahkan banyak orang mulai diselimuti tebalnya keraguan, dalamnya kubangan kekecewaan terhadap kepercayaan bahkan sempitnya pemahaman bahwa Allah hadir tetapi intervensi-Nya ternoda.
Bahkan yang menambah sulit persoalan adalah apabila kehidupan berjalan terbalik dari yang kita kehendaki. Saat jalan keluar terhadap masalah tak didapati dan seolah semua menjadi irama perjalanan hidup yang penuh kegagalan. Namun sesungguhnya tidak demikian kita harus memahami hidup dan persoalannya. Penilaian kritis kita terhadap hidup tidak menjamin keperbaikan hidup yang kita jalani, apalagi harus putus asa dengan hidup. Tetapi jauh lebih indah adalah bersama dengan siapa anda menilai hidup (Yesus) pasti membawa keterjaminan hidup Anda. Belajarlah menilai hidup bukan sebatas hari ini, tetapi lihatlah pada perjalanan menuju masa depan. Dan, pastikan perjalanan anda menyenangkan.

”APA YANG TERJADI HARI INI TINGGALKANLAH KENANGAN” (Sebuah Kontemplasi Terhadap Pengalaman Hidup)

Siang itu, cuaca di Kota Timika-Papua sangat panas, sementara saya membaca bahan untuk persiapan mengajar bagi Mahasiswa PAK, saya tertidur di kamar Gereja dengan pintu terbuka. Tanpa saya sadari, saat terjaga, di depan pintu kamar berdiri seorang Pria kekar hitam membawa Pisau ditangan. Seketika saya kaget, bangun dan bertanya kepada Pria itu; ada yang bisa saya bantu? Pria itu tidak menjawab dan dengan muka tidak bersahabat (mata merah) ia masuk ke kamar dan mendekat sambil berkata: HP itu kasih saya!!!
Dengan tidak menggubris, nada mengancam, ia tetap memaksa meminta HP yang saat itu tergeletak di kursi disamping tempat tidur. Akhirnya, saya mengalihkan perhatiannya, saya berusaha keluar dari kamar dan mencari bantuan untuk situasi yang terjadi. Namun, tidak ada seorang pun yang ada bisa dimintai bantuan. Situasi dan kondisi itu benar-benar membuat saya bingung dan cemas. Saya kembali ke kamar dan mendapati Pria itu keluar, membawa Pisau dibalik baju beserta HP saya. Saya terdiam duduk, dalam hati berdoa dan bertanya; apa yang terjadi hari ini, apa yang bisa saya pelajari?
Saya merelakan HP saya dan membiarkan peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi saya saat itu. Dan, ternyata selang beberapa saat HP itu kembali.
Lewat peristiwa itu saya belajar bagaimana respon kita dalam menghadapi masalah sangat menentukan hasil akhir-menang atau kalahnya kita MENGUASAI KEADAAN. Saya bisa saja terpengaruh dengan keadaan untuk setuju dengan teriakan orang untuk melaporkan masalah ini ke Polisi, mengutuki atau menyumpahi Pria itu tetapi saya adalah Hamba Tuhan tugas saya adalah berdoa dan memungkinkan diri belajar dari setiap masalah yang terjadi.
Namun, berapa banyak diantara kita justru tidak bisa belajar dari setiap masalah. Apalagi menjadikan masalah hidup sebagai peninggalan bersejarah bagi orang-orang disekitar kita. Kita cenderung kalah terhadap situasi yang menekan kita. Kita tidak bisa menilai masalah yang terjadi. Hari-hari ini, mungkin kehidupan memukul kita dengan keras hingga menimbulkan teriakan penuh kesakitan bagi Anda. Mungkin ada perlakuan kasar, pengabaian, penolakan, kehilangan pekerjaan, dianogsa penyakit yang buruk, kehilangan jabatan, pernikahan diujung tanduk, jeratan hukum, tagihan hutang, ada orang yang mengambil keuntungan dari Anda. Ketika semua itu terjadi dapatkah Anda meninggalkan sejarah dari setiap masalah yang ada. Dapatkah anda mengukir sejarah dari setiap masalah. Dengan mengikuti proses, maukah anda mengubah menjadi indah masalah yang anda hadapi. Anda bisa memutuskan berbahagia dengan hidup anda. Meski, masalah datang, karena Anda tahu bagaimana mengukir sejarah dari setiap masalah.
Artikel ini saya tulis dalam waktu yang sangat singkat namun pesan dan ide yang terdapat di dalamnya merupakan pengalaman hidup yang sesungguhnya dan sedang saya tinggalkan menjadi ”kenangan bersejarah” dan bermanfaat bagi sesama. Apa yang terjadi hari ini tinggalkanlah kenangan indah bagi sesama.

Rabu, 17 Desember 2008

KESAKSIAN HIDUP (Pertobatan, penginjilan dan panggilan)

a. Pertobatan:
Dilahirkan ditengah-tengah keluarga Kristen, ternyata tidak menjadikan saya sebagai orang Kristen dan pemercaya setia Tuhan Yesus Kristus. Dari kecil hingga kurang lebih akhir SMP, saya melewati kehidupan yang ada jauh dari suasana bergereja, meskipun saat itu saya bersekolah di sekolah Kristen (SMP). Sampai akhirnya, saya masuk SMA (disekolah yang sama) dan disitulah merupakan titik awal perubahan hidup bagi saya, terlebih terhadap nilai-nilai yang saya percayai.
Sesaat menjelang pendaftaran untuk masuk SMA, ada seorang remaja laki-laki tetangga saya, ia datang menemui saya dan mengajak ke gereja. Saat itu jelas-jelas saya menolak dengan keras dan secara refleks mendorong dia hingga terjatuh dengan kepala berdarah karena terantuk batu. Kemudian ia pergi meninggalkan saya. Tetapi ada hal yang mengejutkan bagi saya adalah bukannya anak ini takut dan membenci saya karena perbuatan yang saya telah lakukan kepadanya melainkan justru ia datang lagi dengan satu teman disampingnya dan melakukan hal yang sama yakni mengajak ke gereja.
Tidak merespon, kemudian saya pergi meninggalkan mereka tetapi sikap dan perkataan anak itu terus bergejolak di pikiran saya. Kemudian suatu malam saya ke gereja tetapi hanya duduk diluar mendengar khotbah yang disampaikan oleh seorang ketua pemuda. Dia menyampaikan suatu pesan singkat dan sederhana namun sangat bermakna buat hidup saya. Ia mengatakan bahwa ada seseorang yang mengasihimu, menerimamu dan tidak pernah menolakmu naman-Nya Yesus. Saya pulang tetapi perkataan itu terasa menusuk, terus ada dipikiran dan sulit dihilangkan (karena saat itu suasana yang ada dikeluarga hanya pertengkaran bahkan saya sering tidak dirumah karena tidak tahan).
Malam itu, saya memberanikan diri untuk membuka hati, mengucapkan kata-kata itu dengan meyakininya dan menirukan doa yang di ucapkan ketua pemuda tadi. Sejak saat itulah, saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat Pribadi dan masuk SMA mulai mengikuti Pendalaman Alkitab yang diadakan di sekolah. Saya diajar banyak tentang kekristenan (Alkitab, siapa Yesus, dll) bahkan bagaimana berkhotbah. Sejak saat itulah saya mengerti apa dan bagaimana melayani dan oleh sekolah dipercayakan pelayanan khotbah di sekolah setiap hari jumat pagi.

b. Pengalaman dalam penginjilan:
Pengalaman pertama penginjilan adalah ketika akhir pendidikan saya SMA. Karena saat itu kedua orang tua dan adik saya belum percaya Yesus, saya selalu berdoa buat mereka (kurang lebih dua tahun). Tuhan berikan hikmat bagaimana supaya berita Injil bisa saya beritakan buat mereka. Saya punya kebiasaan saat itu, hampir setiap sore saya baca Alkitab dan memuji Tuhan memakai kidung jemaat. Kemudian Alkitab dan kidung jemaat itu, sesudah saya abaca dan pakai bernyanyi saya selalu taruh diruang tamu tempat biasa orang tua saya duduk. Harapan dan iman saya adalah orang tua saya mau membuka dan membacanya, dan akhirnya hal itu terjadi. Saya mendekati dan menjelaskannya dan mereka percaya. Saat ini keluarga saya sudah percaya Yesus bahkan keluarga dari bapak/ibu sudah ada yang percaya Yesus dan menjadi Kristen.
Untuk pengalaman penginjilan berikutnya, berlanjut ketika kuliah di STII Yogyakarta, saat itu saya pelayanan selama satu tahun di lereng Merapi dan sempat diusir warga karena berdoa untuk orang sakit di dalam nama Yesus. Dan, kemudian selama tiga tahun di gunung kidul.

c. Panggilan khusus:
Kerinduan untuk melayani-Nya sesungguhnya sudah ada semasa SMA, tetapi hal itu semakin mantap ketika akhir SMA. Saat itu banyak hal baik yang Tuhan buat lewat jawaban-jawaban doa. Pertama, orang tua percaya Yesus. Kedua, saat ujian akhir SMA mata saya terganggu karena minus, namun Tuhan menolong hingga saya bisa menyelesaikan unjian bahkan mendapat peringkat dua. Ketiga, saya diberi kesempatan khotbah perpisahan dihadapan guru, orang tua dan ratusan murid. Kemudian diakhir khotbah itu ada seorang Pendeta ia datang kepada saya dan bertanya selesai SMA, mau kemana? Saya bingung dan tidak tahu mau kemana. Kemudian bapak itu berkata mau nggak kuliah teologi? Karena tidak tahu apa itu teologi saya terus datang kepada Pendeta tersebut, ia membimbing saya dan akhirnya saya tahu apa itu teologi (dalam bahasa sederhana saya saat itu adalah sekolah Pendeta). Akhirnya, lewat proses panjang (karena orang tua tidak setuju dan tanpa biaya) saya melanjutkan ke STII Yoyakarta. Saya menyelesaikan Pendidikan theologĂ­a dengan proses yang sulit (pernah mau dikeluarkan karena tidak bisa membayar, kerja di Kampus, dll) tetapi tepat empat tahun saya bisa menyelesaikannya semua kemudian berangkat ke Papua dan satu tahun kemudian Wisuda. Dan, semuanya karena Tuhan.


Motto: "CUKUP MELAYANI TIDAK CUKUP MELAYANI"

“MENJADI PEMIMPIN PUJIAN YANG KREATIF” Oleh: Ev. Chornelius Sutriyono, S.Th*

PENDAHULUAN
Ibadah yang baik adalah ibadah yang berjalan dengan tertib dan teratur (bdk. 1 Kor. 14:40). Agar ibadah dapat berjalan dengan tertib dan teratur, maka perlu diatur dengan baik. Tugas pemimpin pujianlah untuk mengatur hal ini. Bila seorang MC (Pembawa acara) tidak mempersiapkan bagaimana dia akan memimpin kelangsungan ibadah, maka bisa dipastikan ibadah menjadi tidak terkendali.

PENTINGNYA PUJIAN DALAM IBADAH
I. Dasar Biblikal (Alkitabiah)
a. Ada beberapa contoh dalam Alkitab tentang bagaimana nyanyian puji-pujian digunakan anak-anak Tuhan untuk mengungkapkan hubungan mereka dengan Tuhan dalam setiap keadaan yang mereka hadapi. Kitab Mazmur adalah salah satu contoh yang tepat (Maz. 69:31-32).
b. Keluaran 15:1-21 – tentang nyanyian orang-orang Israel yakni sebuah lagu ucapan syukur dan pujian yang dipimpin Musa dan Miriam. Paling tidak ada tiga alasan mengapa mereka memuji Tuhan;
# Keberadaan-Nya (ay. 1a)
# Karya-Nya/apa yang telah dilakukan-Nya (ay. 2a)
# Pribadi-Nya/Dia milik mereka (ay. 2b)
c. Wahyu 5: 12 – layak!
d. Kisah 2:47 – gaya hidup!
e. Efesus 5:18-19 – tanda dipenuhi Roh!
II. Manfaat Pujian
1. Mendapatkan pengajaran tentang Alkitab mengenai kasih setia dan anugerah Tuhan yang melimpah.
2. Mereka dikuatkan dalam kehidupan sehari-hari
3. Mereka dipersatukan dan akrab
4. Mereka dapat bersaksi tentang iman kepada kristus

TEKNIK DASAR MEMIMPIN PUJIAN
Beberapa teknik dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin pujian adalah;
1. Teknik Bernyanyi
Faktor penting dalam bernyanyi;
a. Produksi Suara; untuk menempatkan nada (bernyanyi) dengan benar, dibutuhkan latihan yang rutin dan kontinu, seperti pepatah berkata ”ala biasa karena biasa’ yang berarti bahwa sesuatu makin dapat dilakukan dengan baik karena biasa dilakukan. Demikian juga dengan menjadi pemimpin pujian. Makin sering dilatih makin baik kualitas yang dimiliki.
b. Pernafasan; tanpa teknik pernafasan yang baik seorang MC akan mengalami kesulitan dalam bernyanyi sekaligus memimpin jemaat bernyanyi. Sokongan teknik pernafasan sangat perlu terutama dalam menghasilkan frase-frase lagu (pengkalimatan lagu). Pengkalimatan lagu membantu jemaat dan MC (Master of Ceremony) untuk menghayati jiwa lagu tersebut.
2. Teknik Berbicara
Hal-hal yang perlu diperhatikan MC supaya dapat mengucapkan kata-kata dengan tepat;
o Gunakan kata-kata yang singkat, efektif, komunikatif dan sistematik dalam menyampaikan pesan atau ajakan.
o Jangan berbicara terlalu cepat sehingga maknanya tidak tertangkap
o Berbicaralah dengan jelas & menggunakan intonasi yang sesuai (jangan meledak-ledak)
o Bahasa formal untuk acara formal, bahasa informal untuk acara informal
o Jangan terlalu banyak bicara saat Jemaat merenung/bernyanyi
Kata-kata komentar/Motivasi;
Berdasarkan Firman Tuhan dan bersifat kontektual. Penting bagi MC untuk memahami bahwa dia bukan pengkhotbah.
Variasi dalam memuji Tuhan;
• Sambil berdiri (lagu penyembahan, pengutusan)
• Berpegangan tangan (lagu persaudaraan)
• Pakai gerak (kalau sesuai). Ini hanya untuk persekutuan biasa (informal)
• Tepuk tangan (bila cocok) sesuaikan dengan suasana.
• Bernyayi dengan suara penuh, setengah suara, lembut, lambat cepat, kanon (berbalasan), tanpa musik (bagian tertentu)
• Modulasi kunci yang lebih rendah atau tinggi
• Bernyayi hanya wanita, pria merenungkan dan sebaliknya

KEMAMPUAN SEORANG PEMIMPIN PUJIAN
1. Kemampuan untuk mempengaruhi jemaat
terdiri atas;
a. Kemampuan Spiritually (secara rohaniah, kepribadian MC memacarkan dan memuliakan Allah)
b. Kemampuan Psychologically (secara psikologis); pemimpin harus menunjukkan sikap positif
c. Physically (secara fisik): pemimpin harus memberikan Penampilan yang pasti dan meyakinkan
d. Musically (secara musikal); pemimpin harus memiliki pengalaman dan persiapan pendidikan yang memadai
2. Kemampuan untuk peka terhadap kebutuhan jemaat
3. Kemampuan untuk mengembangkan dan menggunakan teknik yang kreatif dalam menyanyikan pujian yang baik (suka menyanyi, kualitas suara yang cukup menyenangkan sehingga jemaat tidak berespon negatif, adanya sikap kepemimpinan yang meyakinkan)

PERANAN MUSIK DALAM IBADAH
Musik dihubungkan dengan ibadah dalam tiga cara;
1. Musik mengarahkan jemaat kepada tujuan dan semangat dari sebuah ibadah.
2. Musik melayani sebagai sebuah pendukung untuk menyembah, mengingatkan kebenaran-kebenaran iman yang mendasar dan pengalaman-pengalaman rohani para penulis atau penggubah lagu dan membagikan kepada orang lain.
3. Musik menjadi sebuah kegiatan dalam ibadah. Misalnya, ketika suara diangkat dalam memuji, musik menghasilkan sebuah tindakan nyata dalam ibadah.

Selain itu musik memiliki dampak;
 Memperkaya ibadah; sarana untuk mengangkat suasana dan masuk dalam kepenuhan ibadah
 Memimpin ibadah
 Mempengaruhi emosi, imajinasi, intelektual
Kesalahan-kesalahan yang berbahaya dalam pelayanan musik;
1. Musik hanya dijadikan penghibur belaka
2. Bernyanyi hanya sebagai tradisi
3. Hanya selera satu atau dua orang saja lalu dipaksakan ke seluruh jemaat
Kerjasama MC dengan pemusik; Latihan lagu pujian antara MC dengan Pemusik sangat diperlukan untuk menghasilkan jemaat yang bernyanyi dengan baik
o Intro lagu harus disetujui bersama
o Tempo dan nada dasar perlu dimengerti dengan jelas dan disepakati
o Kesepakatan untuk volume masing-masing alat musik
o MC perlu memberitahukan dan berlatih bagian mana yang perlu diulang dan perlu disepakati kode-kodenya